Postingan

Menampilkan postingan dengan label kitab tawasin

Kisah Hikmah Pencerah Hati: Tata Krama Murid dan Guru

Gambar
Alkisah, ketika Ibrahim Khawwas masih muda, ia ingin mengikuti seorang guru. Iapun mencari salah satu Orang Bijak dan memohon agar diperbolehkan menjadi pengikutnya. Sang Bijak berkata. “Kau belum siap.” Ibrahim Khawwas pantang menyerah. Karena anak muda itu bersikeras, guru itu berkata, “Baiklah, aku akan mengajarimu sesuatu. Aku akan berziarah ke Mekkah. Kau ikut.” Ibrahim Khawwas sangat gembira pengabdiannya diterima. “Nah, anak muda, karena kita mengadakan perjalanan berdua, salah seorang harus menjadi pemimpin. Kau pilih menjadi apa?” kata Sang Guru. “Saya mengikuti saja. Guru yang memimpin,” kata Ibrahim tanpa pikir panjang. “Tentu saja aku akan memimpin perjalanan ini asal kau tahu bagaimana cara menjadi pengikut yang baik,” kata Sang Guru. Perjalanan keduanya dimulai. Suatu malam, ketika mereka beristirahat di padang pasir Hejaz, hujan turun. Sang guru bangkit; memegangi kain penutup, melindungi muridnya dari basah kuyup. “Seharusnya sayalah yang melakukan itu untuk Guru,” kata...

Kisah Hikmah Pencerah Hati: Orang Yang Berjalan di Atas Air

Gambar
Seorang darwis yang gemar berpegang teguh pada kaidah baku dalam ibadah, kebetulan ia berasal dari mazhab yang sangat kaku, suatu hari berjalan menyusuri tepi sungai. Sepanjang penyusurannya itu, ia begitu banyak merenungkan masalah hidup, terutama tentang moral dan etika yang mesti diterapkan seseorang yang ingin dianggap Islam. Baginya, selama seseorang belum pandai membaca Alquran, atau belum menghafal surat-surat dalam Alquran, mana mungkin ia mengenal Allah. Di tengah renungannya ini, ada sebuah teriakan keras. Seseorang sepertinya tengah mengulang-ulang sebuah ungkapan darwis yang terkenal, “YA HU! “ dengan cara yang salah. Si Darwis menggerutu dan berkata, “sia-sia saja orang tadi mengatakan kalimat rahasia tersebut. Ia sudah salah sejak awal karena ucapannya tidak benar. Seharusnya dia mengucapkan YA -HU, tapi dia malah mengucapkannya U-YA-HU.” Si Darwis yang cermat ini kemudian merasa bertanggung jawab. Sebagai darwis yang lebih teliti, ia mempunyai kewajiban untuk meluruskan ...

Kisah Pencerah Hati: Tiga Laron Yang Membakar Diri

Gambar
 Pada suatu malam, sekelompok laron berkumpul bersama. Mereka bertukar kisah tentang kerinduan yang menyiksa hati; keinginan mereka untuk bergabung dengan cahaya lilin . Bagi para laron yang tergerak oleh cahaya, persuaan pertama mereka dengan lilin yang dianggap sebagai Cahaya Abadi; tidak dapat mereka lupakan. Mereka tidak berhenti menceritakan lilin itu dari pandangan masing-masing hingga akhirnya mereka mengeluarkan kesepakatan bahwa mereka harus menemukan  seekor laron yang dapat menceritakan lilin yang sangat mereka dambakan itu. Artinya, harus ada seekor laron yang terbang mendekati lilin dan mengisahkan detail penting selama ia berada di dekat lilin tersebut. Seekor laron berangkat mengemban misi pertama. Ia melihat seberkas cahaya lilin di sebuah puri yang bisa dilihat para laron tersebut dari kejauhan. Ketika laron pertama kembali, ia mengisahkan keindahan lilin ketika dijumpainya. Laron terbijak di antara mereka, sang pemimpin laron, berkata, “laron pertama tidak me...

Kisah Inspiratif Para Sufi: Al Hallaj dan Politisisasi Agama

Gambar
  Dalam kisah inspiratif para sufi kali ini kita akan membahas tokoh Husain bin Mansur atau lebih dikenal dengan nama Al-Hallaj adalah sosok kontroversial. Banyak yang menyatakan bahwa ucapannya, “Ana Al-Haqq” (Akulah Tuhan) sangat keblinger dan ucapan itulah yang menyebabkan Al-Hallaj dihukum gantung dengan keji. Al-Hallaj dikenal sebagai penganut panteisme (paham yang percaya bahwa makhluk dan Tuhan adalah satu kesatuan) atau dalam kosakata Islam dianggap sebagai wahdatul wujud; yang oleh beberapa kalangan fanatik sempit artinya Tuhan adalah ciptaan dan ciptaan adalah Tuhan. Padahal, dalam semua buku yang ditulisnya, Al-Hallaj tidak pernah menuliskan kata “wahdatul wujud”. Tuduhan kesesatan Al-Hallaj ditambah lagi dengan ucapannya tentang haji, “siapa saja yang hadir bersama Tuhan di rumahnya sendiri sebenarnya berada dalam posisi yang seolah-olah hadir bersama Tuhan di Mekkah”. Ucapan ini, bagi orang yang terbiasa membenci orang lain, hanya bisa dimaknai bahwa Al-Hallaj menyamak...